Selasa, 25 Mei 2010
Selasa, 26 Januari 2010
Dzikir untuk Atasi Derita di Jalan Cinta
11 Juni 2008
Berikut ini adalah kutipan naskah buku M Shodiq Mustika, Dzikir Cinta Islami, Bab 3, “Atasi Derita di Jalan Cinta”. Isinya: cara dzikir [1] supaya tangguh hadapi masalah berat, [2] supaya tabah hadapi musibah, [3] supaya penyesalan tidak sia-sia, [4] supaya selamat dari penderitaan, [5] supaya tidak menderita lagi.3
Atasi Derita di Jalan Cinta
Assalamu ‘alaikum ustadz Shodiq Mustika.Wa’alaykum salam, Masyhar. Jawaban terhadap pertanyaan pertama akan kita simak nanti di bawah, pada sub-bab “Supaya Penyesalan Tidak Sia-sia”. Pertanyaan kedua dan ketiga kurang relevan dengan topik pembahasan kita sekarang. Karenanya, saya menjawab di tempat lain, yaitu di http://pacaranislami.wordpress.com/2007/06/22/apakah-penyesalan-ini-terlambat/
Saya sedang menghadapi masalah percintaan dimana dalam kasus ini saya yang bersalah. Kami sudah pacaran selama 7 tahun, dan saya sering menyakiti hatinya dengan wanita lain. Sekarang pada saat dia sudah tidak tahan dan ingin menyendiri, saya merasa sangat kehilangan. Padahal, sebentar lagi kami masuk dalam tahap lebih serius, yaitu menikah. Lalu sekarang ini saya hanya bisa berdoa dan meminta pada Allah supaya saya diberi kekuatan untuk bisa berubah jadi lebih baik (baik dari segi duniawi dan akherat) dan dapat sesuai dengan keinginannya.
[1] Apakah penyesalan saya ini terlambat?
[2] Apakah Allah akan memberi kesempatan pada saya untuk mendekatkan dia pada saya?
[3] Saya sudah berusaha untuk pasrah, tapi apakah saya salah kalau saya diberikan kesempatan yang terakhir?
[4] Kira-kira dzikir apa yang mampu membuat saya lebih tenang lagi?
Terima kasih. Wassalam.
Masyhar
Adapun pertanyaan keempat merupakan pertanyaan yang sangat relevan dengan bab ini. Karenanya, saya akan menguraikan jawaban saya sebagaimana terpapar di bawah ini, hingga akhir bab ini.
Pertanyaan tersebut, “dzikir apa yang mampu membuat saya lebih tenang lagi”, bagus sekali. Sebab, meskipun semua dzikir itu menenangkan kita, khasiat masing-masing tidaklah sama. Keampuhannya bergantung pada kesesuaiannya dengan masalah yang sedang kita hadapi.
Untuk contoh, perhatikan ucapan tasbih dan tahmid yang kita kaji di akhir bab yang lalu. Untuk mensyukuri keindahan yang kita kagumi, kalimat tasbih cenderung lebih sesuai (relevan) daripada tahmid. Namun untuk mensyukuri kenikmatan yang kita rasakan, kalimat tahmid cenderung lebih efektif daripada tasbih.
Sekarang, bagaimana dengan masalah penderitaan di jalan cinta (seperti yang dihadapi oleh Masyhar sebagaimana tersebut di atas)? Dzikir yang bagaimanakah yang tergolong lebih relevan? Mari kita kaji.
Supaya Tangguh Hadapi Masalah Berat
Bayangkanlah bahwa Anda menjadi komandan sebuah pasukan kecil. Tentara Anda sedikit, kurang berpengalaman, dan bersenjata sederhana. Dengan pasukan ini, Anda harus berperang melawan sebuah pasukan besar. Tentara mereka banyak, berpengalaman, dan bersenjata canggih. Sungguh ini merupakan masalah yang berat, bukan?Akan tetapi, meskipun seberat itu, masalahnya ternyata dapat teratasi. Salah satu komandan luar biasa yang berhasil mengatasi problem seberat itu ialah Thalut. Ia dan pasukan kecilnya mengalahkan pasukan Jalut yang besar.
Bagaimana pasukan Thalut yang kecil dapat menjadi sedemikian tangguh, sehingga menaklukkan pasukan Jalut yang besar? Salah satu kunci utama kesuksesannya, pasukan Thalut berdoa:
Rabbanâ afrigh ‘alaynâ shabrâ. Wa tsabbit aqdâmanâ. Wanshurnâ ‘alal qawmil kâfirîn.
(Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, kokohkanlah langkah kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang ingkar.)
(QS al-Baqarah [2]: 250)
Kalau kita menghadapi masalah berat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia cinta, doa tersebut tentunya dapat kita manfaatkan. Insya’Allah kita menjadi lebih kuat daripada problem yang sedang kita hadapi.Supaya Tabah Hadapi Musibah
Bagaimana Allah SWT menjadikan kita tangguh? Caranya melalui musibah, kecemasan, keletihan, atau pun cobaan lainnya. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya Dia akan memberinya cobaan.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah r.a.)Saya yakin, Allah SWT menghendaki Anda menjadi baik. Karenanya, Dia memberi Anda cobaan. Cobaan yang bagaimana? Dan bagaimana caranya supaya lulus dari cobaan Tuhan itu?
Allah SWT menjelaskan, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan; dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, [yaitu] orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kita kembali‘.” (QS al-Baqarah [2]: 155-156)
Jadi, cobaan Tuhan itu bukan untuk menjadikan kita lemah tak berdaya, melainkan menjadikan kita tangguh. Sementara itu, ucapan istirja’ (sebagaimana termaktub pada akhir kutipan tersebut) membuat kita menjadi tabah menghadapi cobaan itu. (Perhatikan! Cobaan Tuhan bukan hanya berupa wafatnya orang yang kita sayangi. Dengan kata lain, ucapan istirja’ tidak hanya berlaku pada peristiwa kematian, tetapi juga pada ketakutan, kelaparan, kemiskinan, dan berbagai cobaan lainnya.) Karenanya, kalau Anda ingin menjadi tabah menghadapi cobaan Tuhan, termasuk penderitaan di jalan cinta, silakan ucapkan istirja’:
Inna lillâhi wa innâ ilayhi râji‘ûn.
(Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kita kembali.)
(QS al-Baqarah [2]: 156)
Supaya Penyesalan Tidak Sia-Sia
Penyesalan kita mungkin biasanya kita wujudkan dengan memohon ampun kepada Allah dalam bentuk ucapan istighfar: astaghfirullâh (aku memohon ampun kepada Allah) dan sebagainya. Sebenarnya, di samping dzikir semacam ini, masih ada dzikir alternatif lain yang juga menunjukkan penyesalan yang mendalam, sebagaimana yang akan saya tunjukkan di bawah ini.Penyesalan Masyhar pada kasus di atas, yang belum berhasil menggaet seorang wanita pujaan ke jenjang pernikahan walau telah melewati masa pacaran selama tujuh tahun, mengingatkan saya pada kasus Nabi Yunus a.s.. Selama 30 tahun berdakwah, konon beliau “hanya” menggaet tiga orang ke jalan Allah.
“Dan ingatlah [kisah] Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah [lantaran "kegagalan" dakwahnya]. Ia menyangka bahwa Kami tidak berkuasa atas dirinya. Maka ia berseru dalam kegelapan [menyesali kesalahannya]: ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim‘.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 87)
Demikianlah Yunus a.s. menyesali kesalahannya. Tentu saja, penyesalan beliau bukanlah sekadar penyesalan terhadap apa yang telah terjadi, melainkan disertai dengan perbaikan diri di waktu-waktu selanjutnya. Beliau kemudian termasuk dalam golongan “orang-orang yang banyak mengingat Allah” (QS ash-Shaffat [37]: 143).
Lantas, bagaimana hasil dari penyesalan yang beliau wujudkan dalam bentuk dzikir (seruan kepada Tuhan) tadi? Manis! Penyesalannya tidaklah sia-sia.
Allah SWT menyatakan: “Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 88)
Jadi, kalau Anda mau selamat dari kedukaan, termasuk di kancah cinta, maka ketika merasakan penyesalan, silakan ucapkan dzikir:
Lâ ilâha illâ anta, subhânaka innî kuntu minazh zhâlimîn.
(Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.)
(QS al-Anbiyaa’ [21]: 87)
Supaya Selamat dari Penderitaan
Apabila disertai dengan penyesalan diri, maka kita dapat mengucapkan dzikir ala Nabi Yunus a.s. tadi supaya selamat dari penderitaan. Namun ketika tidak disertai dengan penyesalan diri, maka hendaklah kita mengikuti teladan dari Nabi Ayub a.s.. Beliaulah hamba Allah yang sangat tabah dalam menghadapi musibah yang amat berat, berupa: jatuh miskin, sakit parah, dan hidup sebatang kara. Beliau ditinggalkan oleh teman-temannya, sedangkan semua anggota keluarganya telah binasa di bawah reruntuhan atap rumahnya.Untuk mengikut teladan Nabi Ayub a.s., kita bisa mengucapkan dzikir:
Annî massaniyadh dhurru wa anta arhamur râhimîn.
(Sesungguhnya bencana telah menimpaku, tetapi Engkaulah yang Paling Penyayang diantara semua penyayang.)
(QS al-Anbiyaa’ [21]: 83)
Lantas, bagaimana hasil dari dzikir ini? Manis juga, bahkan lebih manis! Allah SWT mengungkapkan:“Maka Kami kabulkan doanya dan Kami hilangkan segala penderitaan yang menimpanya, dan Kami beri dia keluarga [baru] dan Kami lipatgandakan bilangannya, sebagai rahmat dari Kami sendiri dan peringatan bagi semua hamba Kami.” (QS al-Anbiyaa’ [21]: 84)
Supaya Tidak Menderita Lagi
Sesudah Allah SWT menghilangkan suatu penderitaan yang menimpa Anda, tentu Anda tidak ingin mengalami penderitaan itu lagi, bukan? Kalau begitu, bersyukurlah! Caranya? Anda dapat berdzikir dengan ucapan ahli surga (yang takkan menderita lagi):Alhamdu lillâhil ladzî adzhaba ‘annal hazan. Inna rabbanâ laghafûrun syakûr.
Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka-cita dari kita. Sesungguhnya Tuhan kita benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
(QS Faathir [35]: 34)
Kemunafikan Adalah Virus, Jadi Vaksin?
unginkankah virus bisa berubah menjadi vaksin? Kalau dalam dunia medis bisa saja. Karena perkembangan ilmu dan teknologi semakin canggih, semuanya bisa disulap menjadi hal yang mengagumkan.
Dalam berbahgai literature termasuk Nash alqur’an dan transliterasi dari berbagai hadits, bahwa sifat munafik adalah suatu sifat yang sangat dilarang oleh syar’ie otomatis larangan berkibat keharaman (mendapat dosa kalau dikerjakan dan dapat pahala jika ditinggalkan). Akan tetapi juga tidak menutup kemungkinan sifat munafik dirubah menjadi suatu perintah yang korelasinya senada dengan virus dan racun menjadi vaksin bagi kekebalan tubuh.
Sifat munafik selaksa bara api yang akan membakar habis segala kebaikkan dan pengabdian seseorang kepada Allah. Sebagaimana api membakar kayu. Tetapi sifat munafik bisa menjadi kayu bakar yang menyalakan api keimanan seseorang dengan bara yang lebih dan sangat panas.
Dalam sejarah perkemabangan kebudayaan islam, kita mengena khalifah Harun Arrasyid, pada masa beliau kita memngenal ilmuwan muslim (ulama) yang sampai saat ini karya beliau dipopuleritaskan dan diamalkan di beberapa unit pendidikan islam (baca pondok pesantren) dengan istilah Syi’ru Abunawas (syair abunawas). Dalam syairnya, Abu Nawas mengatakan (transliterasi)
“Tuhanku sungguh tidak pantas aku untuk surga firdaus
Tetapi tidak pula sanggup (kuat) menahan siksa neraka-Mu”.
Itu adalah cuplikan bait syair yang diberikan Abu Nawas yang diberikannya pada saat seorang muridnya bertanya:
“Guru, bisakah kita menipu Allah?”
Abu Nawas menjawab, “Bisa.” kemudian membaca syai’r di atas hingga akhir (baca Kisah Abu Nawas menipu Allah).
Yang penulis maksud dengan sifat munafik bisa jadi Vaksin, bukan munafik yang membangkang, melanggur aturan main syar’ie, pura-pura beriman dibelakang membangkang, tetapi justru melaksanakan perintah-Nya. Seseorang yang benar-benar muslim tetapi benar juga mukminnya, akan meyakini dan menyadari kalau dirinya adalah orang lemah, oranjg dhalim yang tidak mampu menghitung segala anugerah Allah.
Berjuta-juta milyard bahkan tak dapat dihitung nikmaNya yang diberikan dalam hitungan jam, yang tidak sanggup untuk dihitung apalagi dibalas (Baca Arifin : Samudra Alfatihah). Menyadari ketidakmampuan akan segala kasih sayang yang diberikan Allah dalam segala hal dan keadaan akan membawa ke pintu gerbang ke vaksinasi keimanan dengan catatan ada pengakuan, kesadaran, pelaksanaan dan pembuktian kalau kita adalah makhluk yang lemah, tanpa rahmat-Nya. Tidak akan mampu menghadapi undangan Allah. Kita juga sadar kalau undangan Allah (shalat lima waktu) semata, bentuk kasih sayang Allah untuk hamba-hambaNya. (baca cinta spesial dari Allah).
Belajar menipu Allah dengan lebih dekat kepada-Nya akan menjadi vaksin yang akan menjadi penguat bagi aqidah dan keyakinan seorang hamba, tetap berusaha menjalankan perintah dan meyakini larangan adalah kemudharatan hidup, kemudian berusaha mecari kebijakan dari hal yang dianggap kecil dan spele oleh orang-orang yang telah ditutup dan dibutakan pimtu hantinya oleh Allah.
Semoga kita mampu menjadikan perintah Allah sebagai perahu layar untuk berlabuh di dermaga cinta dalam menggapai penyatuan rasa bersama sang kekasih keabadian. Amien
Misalnya racun atau bisa ular kobra dijadikan obat untuk penyakit tertentu sebagaimana dilakukan oleh Negara-negara tetangga (pernah ditayangkan di TV7). Ada juga yang menjadikan racun ular yang mematikan tersebut sebagai obat kekebalan tubuh atau dijadikan vaksin untuk melawan beberapa racun dalam tubuh. Dalam islam, jauh-jauh sebelum perkembangan imtek, ternyata sudah ada permainan yang tidak kalah pentingnya yaitu tentang kemunafikan disulap jadi kedekatan, kejujuran, bahkan menjadi cinta.
Karena objek kita adalah kemunafikan, maka pada bahasan ini penulis berusaha menitik beratkan pembahasan kepada pengolahan sifat munafik yang merupakan virus keimanan bisa menjadi sebuah obat penguat atau vaksin terhadap keimanan. Sebagai penguat kedekatan seorang hamba dalam meniti jembatan pengabdiannya kepada Allah.Dalam berbahgai literature termasuk Nash alqur’an dan transliterasi dari berbagai hadits, bahwa sifat munafik adalah suatu sifat yang sangat dilarang oleh syar’ie otomatis larangan berkibat keharaman (mendapat dosa kalau dikerjakan dan dapat pahala jika ditinggalkan). Akan tetapi juga tidak menutup kemungkinan sifat munafik dirubah menjadi suatu perintah yang korelasinya senada dengan virus dan racun menjadi vaksin bagi kekebalan tubuh.
Sifat munafik selaksa bara api yang akan membakar habis segala kebaikkan dan pengabdian seseorang kepada Allah. Sebagaimana api membakar kayu. Tetapi sifat munafik bisa menjadi kayu bakar yang menyalakan api keimanan seseorang dengan bara yang lebih dan sangat panas.
Dalam sejarah perkemabangan kebudayaan islam, kita mengena khalifah Harun Arrasyid, pada masa beliau kita memngenal ilmuwan muslim (ulama) yang sampai saat ini karya beliau dipopuleritaskan dan diamalkan di beberapa unit pendidikan islam (baca pondok pesantren) dengan istilah Syi’ru Abunawas (syair abunawas). Dalam syairnya, Abu Nawas mengatakan (transliterasi)
“Tuhanku sungguh tidak pantas aku untuk surga firdaus
Tetapi tidak pula sanggup (kuat) menahan siksa neraka-Mu”.
Itu adalah cuplikan bait syair yang diberikan Abu Nawas yang diberikannya pada saat seorang muridnya bertanya:
“Guru, bisakah kita menipu Allah?”
Abu Nawas menjawab, “Bisa.” kemudian membaca syai’r di atas hingga akhir (baca Kisah Abu Nawas menipu Allah).
Yang penulis maksud dengan sifat munafik bisa jadi Vaksin, bukan munafik yang membangkang, melanggur aturan main syar’ie, pura-pura beriman dibelakang membangkang, tetapi justru melaksanakan perintah-Nya. Seseorang yang benar-benar muslim tetapi benar juga mukminnya, akan meyakini dan menyadari kalau dirinya adalah orang lemah, oranjg dhalim yang tidak mampu menghitung segala anugerah Allah.
Berjuta-juta milyard bahkan tak dapat dihitung nikmaNya yang diberikan dalam hitungan jam, yang tidak sanggup untuk dihitung apalagi dibalas (Baca Arifin : Samudra Alfatihah). Menyadari ketidakmampuan akan segala kasih sayang yang diberikan Allah dalam segala hal dan keadaan akan membawa ke pintu gerbang ke vaksinasi keimanan dengan catatan ada pengakuan, kesadaran, pelaksanaan dan pembuktian kalau kita adalah makhluk yang lemah, tanpa rahmat-Nya. Tidak akan mampu menghadapi undangan Allah. Kita juga sadar kalau undangan Allah (shalat lima waktu) semata, bentuk kasih sayang Allah untuk hamba-hambaNya. (baca cinta spesial dari Allah).
Belajar menipu Allah dengan lebih dekat kepada-Nya akan menjadi vaksin yang akan menjadi penguat bagi aqidah dan keyakinan seorang hamba, tetap berusaha menjalankan perintah dan meyakini larangan adalah kemudharatan hidup, kemudian berusaha mecari kebijakan dari hal yang dianggap kecil dan spele oleh orang-orang yang telah ditutup dan dibutakan pimtu hantinya oleh Allah.
Semoga kita mampu menjadikan perintah Allah sebagai perahu layar untuk berlabuh di dermaga cinta dalam menggapai penyatuan rasa bersama sang kekasih keabadian. Amien
Putus Cinta, Bunuh diri ? Itu Bukan Korban Cinta
Memberikan cinta kepada seseorang bukanlah suatu jaminan kalau orang tersebut akan mencintai kita. Kita tidak boleh terlalu banyak berharap kepada manusia yang dalam hal ini adalah orang yang kita cintai. Ingatlah kalau yang kita cintai itu adalah MANUSIA yang memiliki banyak kelebihan tepapi jangan lupa kekurangannya manusia. Karena kesadaran yang dipraktikan akan meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Dewasa ini, entah berapa jiwa yang telah mengakhiri hidupnya di tangannya sendiri. Bukankah ini adalah suatu keanehan?
Kita yang selama ini dibesarkan oleh orang tua, disekolahkan dan dipenuhi berbagai kebutuhan, ternyata setelah remaja harus memberikan nyawa kepada tiang gantungan, pel over dosis, pisau digenggaman, lompat dari gedung,lompat ke jurang dank e tempat-tempat yang mampu membawa mereka kea lam kedamaian (perspektif mereka).
Kasus bunuh diri diatas ternyata diasumsikan dengan istilah Korban Cinta. Seakan cinta adalah sesuatu yang menakutkan. Alangkah lebih baiknya kalau asumsi ini kita ganti dengan istilah lain. Karena cinta itu adalah sesuatu yang suci. Apakah tidak lebih baik bagi mereka yang telah meyerahkan nyawanya (bunuh diri) dengan lain istilah bukan korban cinta. Andai saja mereka paham tentang (minimalnya) gambaran cinta, Insya Allah tidak akan pernah melakukan hal naïf tersebut.
Kedangkalan pengetahuan terhadap makna cinta, wajar kalau berakhir dengan pertikaian bahkan pembuhan. Apakah tidak ada cara dan jalan lain untuk meyelesaikan suatu masalah yang berhubungan dengan putus cinta selain bunuh diri?
Bukanlah ada istilah lain lagi, “Jangan bermain api kalau takut panas. Jangan bermain cinta kalau takut kecewa.”
Orang-orang yang melakukan hal-hal nekad diatas, berarti pada dasarnya belum siap bercinta sehingga lantaran tidak kuat menanggung derita, kecewa dan keputusasaan yang sangat dalam mengharuskannya bunuh diri. Itu dilakuakan karena kedangkalan pemahaman, tipisnya keyakinan. Itu juga bukan korban cinta melainkan korban keserakahan nafsunya sendiri.
Dewasa ini, entah berapa jiwa yang telah mengakhiri hidupnya di tangannya sendiri. Bukankah ini adalah suatu keanehan?
Kita yang selama ini dibesarkan oleh orang tua, disekolahkan dan dipenuhi berbagai kebutuhan, ternyata setelah remaja harus memberikan nyawa kepada tiang gantungan, pel over dosis, pisau digenggaman, lompat dari gedung,lompat ke jurang dank e tempat-tempat yang mampu membawa mereka kea lam kedamaian (perspektif mereka).
Kasus bunuh diri diatas ternyata diasumsikan dengan istilah Korban Cinta. Seakan cinta adalah sesuatu yang menakutkan. Alangkah lebih baiknya kalau asumsi ini kita ganti dengan istilah lain. Karena cinta itu adalah sesuatu yang suci. Apakah tidak lebih baik bagi mereka yang telah meyerahkan nyawanya (bunuh diri) dengan lain istilah bukan korban cinta. Andai saja mereka paham tentang (minimalnya) gambaran cinta, Insya Allah tidak akan pernah melakukan hal naïf tersebut.
Kedangkalan pengetahuan terhadap makna cinta, wajar kalau berakhir dengan pertikaian bahkan pembuhan. Apakah tidak ada cara dan jalan lain untuk meyelesaikan suatu masalah yang berhubungan dengan putus cinta selain bunuh diri?
Bukanlah ada istilah lain lagi, “Jangan bermain api kalau takut panas. Jangan bermain cinta kalau takut kecewa.”
Orang-orang yang melakukan hal-hal nekad diatas, berarti pada dasarnya belum siap bercinta sehingga lantaran tidak kuat menanggung derita, kecewa dan keputusasaan yang sangat dalam mengharuskannya bunuh diri. Itu dilakuakan karena kedangkalan pemahaman, tipisnya keyakinan. Itu juga bukan korban cinta melainkan korban keserakahan nafsunya sendiri.
Semoga Allah melindungi kita dari hal itu. Amien.
Memikirkan kekasih ternyata ampuh untuk meredakan rasa nyeri/sakit
Memikirkan kekasih ternyata ampuh untuk meredakan rasa nyeri/sakit
Sering sakit gigi? Nyeri karena luka-luka? Nih, ada obat ampuh:Mau Bebas Rasa Sakit, Pikirkan Orang Tercinta!
Senin, 16 November 2009 | 15:54 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Sekadar memikirkan orang-orang yang dicintai dapat membantu mengurangi rasa sakit, demikian hasil satu studi baru. Hasil studi tersebut menggarisbawahi pentingnya hubungan sosial dan agar orang selalu terhubung secara sosial, demikian hasil riset di University of California di Los Angeles (UCLA).
Dalam studi yang dipublikasikan jurnal Psychological Science edisi November 2009 tersebut, para ahli menanyai 25 wanita apakah dengan hanya memandangi gambar orang yang mereka cintai dapat mengurangi rasa sakit.
Para wanita tersebut memiliki pacar dan mereka telah memiliki hubungan baik dengan pacar mereka selama lebih dari enam bulan. Semua wanita itu mendapatkan rangsangan panas yang cukup menyakitkan di lengan mereka sewaktu mereka melewati sejumlah kondisi yang berbeda. Pada satu rangkaian keadaan, mereka memandangi gambar pacar mereka, orang asing, dan kursi.
“Ketika semua wanita tersebut hanya memandang gambar pasangan mereka, mereka sesungguhnya melaporkan lebih sedikit rasa sakit akibat rangsangan panas ketimbang ketika mereka sedang memandangi gambar satu obyek atau gambar orang asing,” kata penulis studi itu, Naomi Eisenberger, Asisten Profesor Psikologi serta Direktur Laboratorium Ilmu Syaraf Afektif dan Sosial di UCLA.
“Jadi, mengingat kepada pasangan, melalui gambar sederhana, seseorang mampu mengurangi rasa sakit,” katanya
Dalam serangkaian kondisi lain, masing-masing wanita memegang tangan pacar mereka, tangan seorang pria asing, dan menggenggam bola. Studi itu mendapati bahwa ketika perempuan memegang tangan pacar mereka, mereka melaporkan lebih sedikit rasa sakit dibandingkan dengan saat mereka memegang tangan orang asing atau bola sewaktu mereka menerima jumlah perangsang panas yang sama.
“Ini mengubah pendapat kita mengenai bagaimana dukungan sosial memengaruhi orang,” kata Eisenberger.
“Secara khusus, kita memikirkan dukungan sosial itu untuk membuat kita merasa nyaman, itu harus menjadi sejenis dukungan yang sangat responsif bagi kebutuhan emosi kita. Namun, di sini, kami menyaksikan bahwa hanya foto orang yang penting buat seseorang dapat memiliki dampak yang sama.”
Studi ini, kata Eisenberger, memperlihatkan seberapa banyak dampak hubungan sosial kita dapat muncul dalam pengalaman kita dan cocok dengan kegiatan lain yang menekankan pentingnya dukungan sosial bagi kesehatan fisik dan mental.
Para peneliti tersebut menyarankan bahwa jika nanti orang mesti melewati pengalaman yang menyakitkan atau berupa tekanan, tapi mereka tak dapat menghadirkan orang yang mereka cintai untuk mendampingi mereka, foto dapat menggantikannya.
Rambu - Rambu bercinta
Cinta itu adalah sesuatu hal yang abstrak. Cinta bukan sekedar rasa melainkan keseluruhan rasa,asa dan perasaan bahkan perbuatan. Cinta bukan sekedar bahasa kata, bukan pula sekedar terjemahan sikap semata, melainkan rasa yang diterjemahkan dalam kata, sikap dan rasa itu sendiri. Akan tetapi itu bukan difinisi dari cinta, karena bagaimanapun juga cinta bukanlah kata atau rasa yang memiliki batas. Memberikan difinisi terhadap cinta secara tidak langsung memberikan batasan makna cinta.
Perasaan cinta tidak akan pernah hadir sebelum mampu menghilangkan rasa benci, dengki, tidak suka, muak dan beberapa sifat yang bertentangan dengan gambaran makna cinta.
Akan tetapi tidak menutup kemungkinan cinta lahir dari arah yang berlawanan tersebut. Atau dengan kata lain, Cinta adalah kemampuan untuk menghilangkan perasaan benci, dengki, acuh dalam menjalin hubungan dan perhatian yang intensif terhadap yang dicinta.
Ada gambaran sabda dari baginda Nabi Muhammad saw,
“ Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia menjadi budak dari apa yang dicintainya.”
Para ilmuwan muslim (baca : ulama Allah) sebagian memberikan rambu-rambu lalu lintas bercinta agar tidak terjebak ke lambah pembudakan tersebut. Mencintai adalah merupakan fitrowiyah bagi seseorang. Selama menjadi manusia, pasti memiliki perasaan cinta. Karena cinta merupakan fitrowi maka, tidak mungkin suatu doktrin akan mengajarkan untuk mencintai. Bukanlah kita ada karena adanya cinta?
Gambaran batasan yang diberikan para ulama tentang cinta tersebut, agar seseorang mencintai bukan semata karena hasrat yang dipicu nafsu, melainkan menyadari dengan segenap pengetahuan, bahwa adanya cinta tidak mungkin tumbuh dengan sendirinya tetapi karena ada yang mengadakan, menumbuhkan kembangkan, sehingga terlahir dalam bentuk rasa, kata dan perbuatan.
Mungkin kita agak sulit membedakan makna cinta yang mengarah kepada pembudakan (cinta yang terlahir karena nafsu) dengan rasa yang tulus dan murni karena anjuran syar’ie. Mungkin juga kita sempat bertanya kepada orang atau kepada diri sendiri, apakah rasa yang sedang menepit jiwa hanya sekedar hasrat, buruan nafsu, kehendak atau kamuslase saja?
Minimalnya kita memiliki gambaran tentang rambu-rambu dalam bercinta agar tidak tertipu oleh daya dan kekuatan yang dimiliki musuh-musuh kita (iblis) :
Semoga Allah menyatukan kita dalam cinta dan memisahkan pula dengan cinta, amien.
Perasaan cinta tidak akan pernah hadir sebelum mampu menghilangkan rasa benci, dengki, tidak suka, muak dan beberapa sifat yang bertentangan dengan gambaran makna cinta.
Akan tetapi tidak menutup kemungkinan cinta lahir dari arah yang berlawanan tersebut. Atau dengan kata lain, Cinta adalah kemampuan untuk menghilangkan perasaan benci, dengki, acuh dalam menjalin hubungan dan perhatian yang intensif terhadap yang dicinta.
Ada gambaran sabda dari baginda Nabi Muhammad saw,
“ Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia menjadi budak dari apa yang dicintainya.”
Para ilmuwan muslim (baca : ulama Allah) sebagian memberikan rambu-rambu lalu lintas bercinta agar tidak terjebak ke lambah pembudakan tersebut. Mencintai adalah merupakan fitrowiyah bagi seseorang. Selama menjadi manusia, pasti memiliki perasaan cinta. Karena cinta merupakan fitrowi maka, tidak mungkin suatu doktrin akan mengajarkan untuk mencintai. Bukanlah kita ada karena adanya cinta?
Gambaran batasan yang diberikan para ulama tentang cinta tersebut, agar seseorang mencintai bukan semata karena hasrat yang dipicu nafsu, melainkan menyadari dengan segenap pengetahuan, bahwa adanya cinta tidak mungkin tumbuh dengan sendirinya tetapi karena ada yang mengadakan, menumbuhkan kembangkan, sehingga terlahir dalam bentuk rasa, kata dan perbuatan.
Mungkin kita agak sulit membedakan makna cinta yang mengarah kepada pembudakan (cinta yang terlahir karena nafsu) dengan rasa yang tulus dan murni karena anjuran syar’ie. Mungkin juga kita sempat bertanya kepada orang atau kepada diri sendiri, apakah rasa yang sedang menepit jiwa hanya sekedar hasrat, buruan nafsu, kehendak atau kamuslase saja?
Minimalnya kita memiliki gambaran tentang rambu-rambu dalam bercinta agar tidak tertipu oleh daya dan kekuatan yang dimiliki musuh-musuh kita (iblis) :
- Menyadari dengan sepenuhnya, cinta bukan hanya terlahir karena seringnya bersama (berkumpul), seringnya berkomunikasi, atau lantaran kebaikan sikap, wajah dan lain sebagainya tetapi ada kekuatan supra natural yang menghadirkannya.
- Mentaati rambu-rambu agama dalam menjalin komunikasi bukan sekedar ingin memuaskan panggilan nafsu.
- Memiliki orientasi yang jelas dan kontinuitas yang konsis terhadap hubungan yang dibina tidak hanya dianggap sebagai permainan belaka.
- Menyadari motor penggerak kehidupan, bahwa apa yang sedang dijalani tidak mesti berujung dengan senyum dan tawa melainkan bisa jadi berakhir dengan air mata dalam ketidakpuasan.
- Memahami pula makna dalam penciptaan, Allah selalu memberikan pasangan. Allah menciptakan atas maka diciptakan-Nya pula bawah, ada timur ada barat. Begitu juga kalau saat ini sedang tertawa karena senang, bersiaplah untuk menangis dalam duka dan kecewa.
Semoga Allah menyatukan kita dalam cinta dan memisahkan pula dengan cinta, amien.
Lahir, Hidup dan Mati Karena Cinta
Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, maka Allah akan mencintai kalian.’ (Al-quran.)
Adakah kekuatan yang mampu membelah lautan menjadi darat?
Adakah kekuatan mendinginkan bara api?
Adakah kekuatan menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada? (bukan membuat)
Belajar menjadi orang bijak setidaknya memandang kehidupan dengan cinta. Karena mereka sadar tercipta dengan cinta dan karena itu pula tidak mungkin mereka mengingkari fitrah kelahirannya tersebut sehingga mereka tebarkan pengaruhnya atas dasar cinta.
Mungkin Tidak berlebihan salah satu gaya kepemimpinan berpusatkan pada kekuatan cinta (leadership by love). (baca : Tasmara, Spiritual Centered Leadership). Lingkaran pengaruhnya dipenuhi dengan rasa tanggung jawab yang tulus merupakan bagian dari putik sari bunga cinta. Mereka sadar bahwa dengan memeperluas medan pengaruh atas dasar kasih, persaudaraan dan ketulusan tidak akan kehilangan apapun. Justru dengan memberi cinta, dia merasa menerima keberkahan. Cinta telah memeluk, menjerat erat dirinya sehingga wajahnya senantiasa menunjukkan senyum, keakraban, familiar dan penuh kesejukan. Kehadirannya menjadi penyejuk hati membawa keceriaan, dan meggetarkan orang-orang disekitarnya kedalam kebahagiaan pula, mereka adalah tipe manusia yang menumbuhkan pengaruh kredibilitasnya melalui pelayanan yang berorientasi pada kebahagian, kepeuasaan, dan ketentraman orang-orang yang dilayaninya.
Rasullulah SAW adalah pemimpin agung, manusia tersukses, sosok kekasih Allah yang menunjukkan keteladan tentang apa arti melayani dengan cinta. Hatinya bergetar setiap kali melihat penderitaan atau beban oran-orang yang beriman. Jiwanya meritih bila dia tidak mengunjungi orang-orang yang miskin yang membutuhkan penghiburan beliau. Pemaafannya luar biasa. Pada saat kekuasaan berada di dalam genggamannya (futtuh makkah) semua musuh-musuhnya kecut bahkan ada yang melarikan diri. Karena disangkanya akan ada balas denadam kepada mereka yang telah membuat Rasullullah dan keluarganya menderita. Tetapi, beliau bersabda, : “ Tidak ada dendam, tidak ada kebencian, fainnakum tulaqa! Engkau semua bebas kemanapun engkau suka.”
Tutur katanya lemah lembut dan senyumannya merona menebharkan kedamian. Disayanginya anak-anak kecil. Dimotifasinya para pemuda dan dihormatinya orang-orang tua. Rasullulah SAW. Pemimpin agung kekasih Allah, tetapi bila akan menemuinya cukuplah kita mencarinya dianjtara orang-orang yang hantinya patah atau orang yang perutya kelaparan. Disanalah beliau bergabung, diantara orang-orang yang membutuhkan penghrapan dan pertolongan. Antara dirinya dan umatnya seakan tidak berjarak. Dihormatinya tamu-tamunya dengan dihamparkannya sorbannya untuk memulaikan tamu yang hadir. Ash-shalatu wassalamu alaika ya Rasulullah.
Bagaimana keadaan kita yang berada di dunia Egoisme ini? Kapankah kiranya hendak sedikit meneladani sifat cinta Rasulullah? Adanya beliau penuh cinta, gerak badan, helaan nafas bahkan getak jantung adalah cinta.
Langganan:
Entri (Atom)